Kamis, 02 Januari 2020

TEKNIK ISOLASI BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
TEKNIK ISOLASI BAKTERI 









                Nama Anggota Kelompok :


                Tiara Rachmawati
1351810317
                 Lovina Lumban Gaol
1351810337
                 Windy Rachmadani
1351810348
                 Fadhiil Hisyam Putra
1351810352
                 Shindy Nasya Azhari
1351810355
                 Siti Munawaroh
1351810364











AKADEMI FARMASI SURABAYA
2019



BAB I
PENDAHULUAN

       1.1  Latar Belakang
          Mikrobiologi ialah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme hidup yang berukuran mikroskopis. Dunia mikroorganisme terdiri dari 5 kelompok organisme : Bakteri, Protozoa, Virus, serta Algae, dan cendawa miroskopis. Dalam bidang mikrobiologi kita dapat mempelajari tentang jasad-jasad renik ciri-cirinya kekerabatan antara sesamanya seperti juga sam dengan kelompok organisme lainnya, pengendaliannya dan peranannya dalam kesehatan dan kesejahteraan kita . mikroorganisme sangat erat kaitannya dengan kehidupan kita beberapa diantaranya dapat bermanfaat dan merugikan beberapa mikroorganisme menyebabkan penyakit dan yang lain terlibat dalam kegiatan manusia sehari-hari seperti pembutan anggur,keju,yogurt,penisilin serta proses-proses perlakuan pembuangan limbah (michael, 2007).
          Mikroorganisme pada suatu lingkungan alami merupakan populasi campuran dari berbagai jenis, baik mikroorganisme pada tanah, air, udara, makanan, maupun yang terdapat pada tubuh hewan maupun tumbuhan. Pemisahan bakteri diperlukan untuk mengetahui jenis, mempelajari kultural, morfologi, fisiologi, dan karakteristik. Teknik pemisahan tersebut disebut isolasi yang disertai dengan pemurnian. Pengertian isolasi bakteri yaitu suatu proses mengambil bakteri dari medium atau dari lingkungan asalnya lalu menumbuhkannya di medium buatan sehingga diperoleh biakan yang murni (Singleton & Sainsbury, 2006).
        
      1.2   Rumusan Masalah
    Ada berapa dan bagaimana teknik isolasi bakteri?

      1.3  Tujuan
     Untuk mengetahui jenis-jenis dan cara isolasi bakteri

       1.4  Manfaat
       Pada praktikum ini mahasiswa dapat mengetahuijemis-jenis dan cara kerja teknik isolasi bakteri



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Mikroorganisme yang ada dalam suatu lingkungan alami merupakan campuran dari banyak jenis mikroorganisme, oleh karena itu dalam proses pembiakan salah satu jenis mikroorganisme perlu adanya pemisahan untuk mengetahui jenis, bentuk morfologi, fisiologi dan karakter dari mikroorganisme terentu. Teknik pemisahan ini disebut isolasi yang disertai dengan pemurnian (Koes, 2006).

2.1 Teknik Isolasi Mikroorganisme
            Teknik isolasi untuk memperoleh biakan murni ada beberapa cara tergantung substratnya. Isolasi mikroba dari substrat cair dapat menggunakan cara sebar (spread method) dan cara tuang (pour-plate method). Isolasi mikroba dari substrat padat dapat menggunakan cara tabur (spread method) dan cara suspensi. Hal yang perlu diperhatikan pula adalah dalam memilih sumber biakan, seperti memilih koloni yang representatif untuk diambil menjadi biakan murni. Koloni yang berada di bagian tengah dari sampel biasanya kurang terkontaminasi dibandingkan koloni yang berada di bagian pinggir (Harley & Prescott, 2002). Selain itu, koloni yang dipilih adalah yang benar-benar telah terpisah dengan koloni lain (Madigan dkk., 2011). Setelah melakukan isolasi, diperlukan upaya untuk menjaga agar biakan tersebut tetap baik, misalnya dengan disimpan di pendingin atau alat pengering (Harley & Prescott, 2002). Berikut penjelasannya :

2.1.1. Metode gores atau streak plate (culture)
Menggunakan kawat ose dan menggoreskannya ke permukaan medium agar dengan pola tertentu dengan harapan pada ujung goresan, hanya sel-sel bakteri tunggal yang terlepas dari ose dan menempel ke medium. Sel-sel bakteri tunggal ini akan membentuk koloni tunggal yang kemudian dapat dipindahkan ke medium selanjutnya agar didapatkan biakan murni.
 Untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan, yang biasanya diperoleh dari pengalaman. Metode cawan gores yang dilakukan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan. Dua macam kesalahan yang umum sekali dilakukan adalah tidak memanfaatkan permukaan medium dengan sebaik- baiknya untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi kurang lanjut dan cenderung untuk menggunakan inokulum terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan sel - sel yang digores
Gambar 2.1.1 Metode streak plate

2.1.2 Metode tuang atau pour plate (shake culture)
dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencampur suspensi bakteri dengan medium agar pada suhu 50ΒΊC kemudian menuangkannya pada petridisk atau dengan menyemprotkan suspensi pada dasar petridisk, kemudian menuang medium agar keatasnya dan diaduk. Setelah agar mengeras, bakteri akan berada pada tempatnya masing-masing dan diharapkan bakteri tidak mengelompok sehingga terbentuk koloni tunggal.
Gambar 2.1.2 Isolasi mikroba dari substrat cair dengan metode suspensi.
        
2.1.3. Metode sebar atau spread plate
dilakukan dengan menyemprotkan suspensi ke atas medium agar kemudian menyebarkannya secara merata dengan trigalski. Dengan ini diharapkan bakteri terpisah secara individual, kemudian dapat tumbuh menjadi koloni tunggal

 Gambar 2.1.3 Metode memperoleh biakan murni
2.1.4. Slant culture
Ujung kawat yang membawakan bakteri digesekkan pada permukaan agar-agar miring dalam tabung reaksi. Dapat dilakukan dengan cara menggoreskan secaa zig-zag pada permukaan agar miring menggunakan jarum ose yang bagian atasnya dilengkungkan. Cara ini juga dilakukan pada agar tegak untuk meminimalisir pertumbuhan mikroba dalam keadaan kekurangan oksigen.

Gambar 2.1.4 Isolasi mikroba dari substrat cair dengan metode suspensi (a), (b), dan (c) Stab culture dan (d) Slant Culture.

2.1.5. Stab culture
Ujung kawat yang membawakan bakteri ditusukkan pada media padat (agar-agar) dalam tabung reaksi, berbeda dengan slant culture permukaan agar-agar ini tidak miring. Media agar setengah padat dalam tabung reaksi, digunakan untuk menguji gerak bakteri secara makroskopis
Pengujian total mikroba dilakukan dengan menggunakan metode cawan. Metode hitungan cawan paling banyak digunakan untuk menghitung jumlah mikroba pada bahan pangan. Medium yang digunakan antara lain, medium plate count agar (PCA), tabung reaksi, cawan petri, pipet, inkubator (Safitri dan Swarastuti, 2011). Pembakar Bunsen, untuk mensterilkan peralatan seperti ose, jarum, dan spatula dengan cara membakar ujung peralatan tersebut di atas api bunsen sampai berpijar. Oven, untuk mensterilkan cawan petri dan pipet volume. Penggunaan alat ini dengan memasukkan alat-alat tersebut kedalam oven dan dipanaskan dengan suhu 160 - 170oC selama 1-2 jam. Autoklave, untuk mensterilkan tabung reaksi bertutup dan erlenmeyer. Penggunaan alat ini dengan memasukkan alat-alat tersebut kedalam autoklave yang ditutup dengan rapat dan nyalakan autoklave dengan temperature 121°C dan tekanan antara 15-17,5 psi (pound persquare inci) atau 1 atm selama 1 jam (Kharisma dan Abdul, 2012).

2.1.6 Teknik Pengenceran (dilution method)
Suatu sampel dari suatu suspensi yang berupa campuran bermacam- macam spesies diencerkan dalam suatu tabung yang tersendiri. Hasil pengenceran ini kemudian diambil kira-kira 1 mL untuk diencerkan lebih lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini diambil 0,1 mL untuk disebarkan pada suatu medium padat, kemungkinan besar kita akan mendapatkan beberapa koloni yang akan tumbuh dalam medium tersebut, akan tetapi mungkin juga kita hanya akan memperoleh satu koloni saja. Hal yang demikian ini dapat kita jadikan biakan murni. Jika kita belum yakin, bahwa koloni tunggal yang kita peroleh tersebut merupakan koloni yang murni, maka kita dapat mengulang pengenceran dengan menggunakan koloni ini sebagai sampel.
Gambar 2.1.6 Teknik pengenceran

      2.1.7.Teknik Isolasi Khamir dan Jamur
Menurut Lestari, T. P (2018,) khusus untuk isolasi khamir dan jamur dikenal beberapa teknik inokulasi, yaitu:
a) Teknik pengenceran,
b) Teknik Hansen,
c) Teknik Lindner,
d) Mikromanipulator,
e) Isolasi spora dan sporangium.


BAB III

METODELOGI PENELITIAN


3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Praktikum Mikrobiologi Akademi Farmasi Surabaya, pada hari Selasa, 15 Oktober 2019 pukul 08.00-11.20 WIB.

3.2 Alat:
1.    Masker
2.    Sarung tangan
3.    Bunsen
4.    Jarum ose
5.    Tabung reaksi
6.    Rak tabung reaksi
7.    Korek api
8.    Kapas
9.    Semprotan alkohol
10.     Pipet Filler
11.     Pipet volume
12.     Cawan petri
13.     Erlemeyer
14.     Inkubator
3.3 Bahan :
1.    Nutrient Agar (NA),
2.    Nutrient Broth (NB),
3.    Aquadest,
             4.  Alkohol
3.4  Metode :
a.       Spread plate method atau cara tebar/sebar
Cara kerja
1.    Pipet mikroba yg akan di amati sebanyak 0,1 ml di depan api bunsen
2.    Flambir terlebih dahulu pinggiran cawan petri, lalu buka cawan petri didepan api bunsen.
3.  Masukkan mikroba tepat di tengah-tengah cawan petri, tutup dan flambir kembali pinggiran cawan petri
4.  Bakar batang spreader yang sebelumnya telah direndam dengan alkohol, lalu tunggu dingin.
5.    Sebarkan mikroba dengan cara memutar batang spreader secara perlahan/hati-hati hingga mikroba merata
6.    Hati-hati jangan sampai melukai media yang digunakan
7.    Keluarkan batang spreader, bakar lalu masukkan ke dalam alkohol kembali
8.    Flambir pinggiran cawan kembali.
9.    Lalu wrap bagian pinggir cawan petri

b.      Streak plate method (cara gores)
Cara kerja
1.    Bakar jarum ose hingga membara pada bagian besi yang berbentuk bulat sampai ke atasnya sedikit, biarkan hingga agak dingin
2.    Buka penutup tabung yang berisi mikroba yang telah dilarutkan lalu flambir mulut tabung
3.    Masukkan jarum ose hingga bagian ujung bulat tercelup ke dalam tabung, lalu keluarkan dan tutup kembali tabung tersebut
4.    Flambir pinggiran cawan petri yang berisi NA, agar padat, lalu buka penutup cawan petri dan masukkan jarum ose
5.    Gores perlahan zig-zag sesuai dengan teknik goresan yang dipakai dan perhatikan secara seksama garis goresan agar tidak ada yang terputus dan jangan sampai “melukai” media NA tersebut
6.    Tutup dan flambir pinggiran cawan tersebut,lalu di wrap.

c.       Pour plate method
Cara kerja
1.    Pipet mikroba yang akan digunakan menggunakan mikro pipet, lalu ambil cawan petri steril yang belum berisi media NA dan flambirlah pinggirannya terlebih dahulu
2.    Buka cawan petri dan masukkan mikroba yang telah di pipet tadi.
3.    Kemudian pipetlah media NA agar yang masih cair sebanyak 15ml dan masukkan kedalam cawan petri yang telah berisi mikroba tadi
4.    Tutup cawan petri lalu flambir pinggirannya
5.  Letakkan cawan petri di meja kerja, lalu mulai mencampur mikroba dan media NA dengan cara di gerakkan di atas meja kerja membentuk angka 8 secara perlahan-lahan (jangan terlalu kencang dan jangan terlalu lambat)


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum Mikrobiologi kali ini bakteri yang digunakan adalah Bacillus subtilis, Streptococcus, Escheria coli, Psseudomonas, dan media yang digunakan adalah NA dan NB. Masing- masing bakteri akan ditanam pada media NA di cawan petri, tabung reaksi tegak, dan tabung reaksi miring. Dan pada media NB (cair). Pada tabung teaksi tegak digunakan untuk mengetahui kebutuhan oksigen dari bakteri. Ada 3 teknik yang digunakan dalam praktikum kali ini, yaitu pour plate, spread plate, dan streak plate.
Pour plate adalah suatu teknik dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara memasukkan suspensi bakteri terlebih dahulu, lalu dimasukkan media NA cair, kemudian letakkan diatas meja dan gerakkan cawan petri membentuk angka 8. Dimana kelebihan metode ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada media agar.
Spread plate adalah teknik dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menuangkan suspensi bakteri ke dalam cawan petri lalu ratakan menggunakan alat yang bernama spreader. Bedanya dengan metode tuang adalah pencampuran stok kultur bakteri dilakukan setelah media agar memadat, sedangkan metode tuang kultur dicampurkan ketika media masih cair (belum memadat).
Streak plate adalah teknik menumbuhkan bakteri dengan cara menggores media dengan suspensi bakteri dan dibantu menggunakan jarum ose. Yang dimaksud menggores pada teknik ini adalah menggores lembut tanpa melukai media atau membuat permukaan media tidak halus. Jika permukaan media tidak halus maka persebaran bakteri akan sulit untuk diamati pada mikroskop. Dalam teknik ini ada 3 teknik goresan, yaitu goresan T, goresan quadran dan goresan sinambung.
Setelah isolasi berhasil dikerjakan, selanjutnya media yang sudah berisi bakteri tersebut dimasukkan ke dalam inkubator untuk menjaga suhu nya tetap terkendali. Inkubasi bakteri selama minimal 1x 24 jam, maka diperoleh hasil bahwa ditemukannya bentuk zig-zag dalam cawan petri atau berbentuk goresan sinambung berwarna putih yang menandakan adanya mikroba, sedangkan jumlah bakteri belum dapat kami ketahui karena belum diadakannya pengamatan yang dilakukan.

Pada percobaan isolasi dengan cara penuangan menggunakan medium NA (Nutrien Agar). Dimana terlebih dahulu biakan mikroba disemprotkan pada cawan petri kemudian diberi medium NA, setelah diinkubasi dalam inkubator dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa terdapat mikroba  di seluruh bagian media (dasar dan permukaan) dan pertumbuhan mikroba tidak merata. Hal ini mungkin disebabkan karena pada saat mengisolasi medium tersebut tidak rata. Adanya mikroba yang tumbuh diseluruh permukaan medium disebabkan karena pemberian biakan bakteri terlebih dahulu kemudian pemberian NA.

BAB V
KESIMPULAN

5.1  Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa, ada beberapa macam teknik isolasi diantaranya yaitu:
1.      Teknik menggores adalah apabila mikroorganisme berada dalam suatu suspense atau suatu padatan, lalu dengan jarum inokulasi diambil dan digoreskan pada medium tertentu maka cara ini disebut cara menggores.
2.      Teknik menuang yaitu apabila mikroorganisme yang akan dipisahkan berada dalam satu suspensi, untuk memisahkan dituangkan kedalam medium tertentu maka disebut teknik menuang.  
3.      Metode sebar adalah teknik dalam menumbuhkan mikroorganisme di dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur murni atau menghapuskannya di atas media agar yang telah memadat.

5.2  Saran
Sebaiknya untuk praktikan kedepannya diharap semua dapatmengetahui dan menguasai hal-hal yang harus di perhatikan dalam setiap praktikum serta semua cara kerja dalam memulai praktikum.

Daftar Pustaka

Aditiwati, P dan Kusnadi. 2003.Kultur Campuran dan Faktor LingkunganMikroorganisme yang Berperan dalam Fermentasi Tea–Cider. DepartemenBiologi–FMIPA InstitutTeknologi Bandung. PROC. ITB Sains dan Tek. 35 A,No (2), 147–162
Dwidjoseputro, S. 1990. Mikrobiologi Pangan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Dwyana, Z. Nurhaedar. 2011. Mikroobiologi Dasar. Universitas Hasanuddin. Makassar
Hadioetomo, Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka              Utama.
Pelczar, Michael, J., E.C.S Chan. 1986. Dasar – Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.
Tri Puji Lestari.2018. Buku Ajar Praktikum Mikrobiologi untuk DIII Farmasi. Graniti: Surabaya

pengujian ALT dengan sampel sinom dan tahu

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI
PENGUJIAN ALT (ANGKA LEMPENG TOTAL) DENGAN SAMPEL TAHU DAN SINOM









                Nama Anggota Kelompok :


                Tiara Rachmawati
1351810317
                 Lovina Lumban Gaol
1351810337
                 Windy Rachmadani
1351810348
                 Fadhiil Hisyam Putra
1351810352
                 Shindy Nasya Azhari
1351810355
                 Siti Munawaroh
1351810364











AKADEMI FARMASI SURABAYA
2019



 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Zaman semakin modern, perkembangan teknologi pun kian pesat. Segala bentuk pengobatan juga semakin maju. Namun, pengobatan dengan menggunakan bahan-bahan alam seperti tanaman atau biasa disebut dengan obat herbal masih diminati masyarakat. Jamu sinom yang dijajakan di daerah ketintang sekitar. Jamu sinom tersebut dianggap oleh masyarakat aman dikonsumsi karena berasal dari bahan alam tanpa adanya pengawet atau bahan kimia tambahan. Selain itu harganya pun sangat terjangkau. Pangan merupakan kebutuhan dan hak dasar manusia penyediaan pangan tidak hanya menyangkut jumlahnya tetapi keamanannya. Aspek keamanan sangat penting karena menyangkut kesehatan masyarakat jaminan pangan di indonesia belum ada. Hal tersebut menyebabkan adanya keracunan dengan makanan tersebut. Tahu adalah mengandung kurang lebih 75% air di samping protein dan lemak produk ini mudah sekali rusak sehing cocok sebagai media pertumbuhan mikroorganisme yang tumbuh.
Uji ALT digunakan untuk menghitung banyaknya bakteri yang tumbuh dan berkembang pada sampel, juga sebagai acuan yang dapat menentukan kualitas dan keamanan simplisia (Depkes RI, 1994). Salah satu parameter dari Peraturan KBPOM Nomor 12 Tahun 2014 menyatakan bahwa untuk Angka Lempeng Total (ALT) tidak lebih dari 104. Yang masih diperbolehkan menurut standart nasional indonesia SNI: 01-3142-1998 yaitu maksimal negatif/25 gram dengan cemaran bakteri salmonella sp.

1.2 RUMUSAN MASALAH

  • Metode apa yang di gunakan dalam pengujian sampel sinom dan tahu?
  • Bagaimana metode ALT dilakukan dengan sampel sinom dan tahu
1.3 TUJUAN

  • Untuk megetahui metode yang digunakan untuk pengujian sinom dan tahu
  • Untuk mengetahui cara metode ALT pada sampel sinom dan tahu
1.4 MANFAAT

  • Untuk menghitung koloni bakteri pada metode ALT (Angka Lempeng Total)
  • untuk mengetahui cemaran bakteri pada sampel sinom dan tahu

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 METODE ANGKA LEMPENG TOTAL (ALT)
      Metode kualitatif yang digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada sampel yang di gunakan adalah sinom dan tahu dengan uji ALT adalaqh menghitung jumlah mikroba aerob mesofilik yang ditemukan dalam per gram atau per mililiter. Dengan metode pour plate pada media padat dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 35-45 derajat celcius dengan posisi di balik. ALT dapat digunakan sebagai indikator proses higine sanitasi pada suatu produk, analisis mikroba lingkungan pada produk jadi, indikator proses pengawasan dan di gunakan sebagai dasar kecurigaan dapat atau tidaknya di terimanya suatu produk berdasarkan kualitas mikrobiologinya
         prinsip dari metode ini adalah menumbuhkan sel mikroorganisme yang mesih hidup pada media agar sehingga mikroorganisme akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung  dan hitung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. metode ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu homogenisasi sampel, pengenceran, inokulasi & inkubasi dan interpretasi ALT

2.2 PREPARASI
  • Homogenasi sampel merupakan salah satu tahap yang harus dilakukan pada sampe supaya diperoleh distribusi mikroba yang merata di dalam sampel sehingga mudah untuk diamati. Tujuannya adalah untuk membebaskan sel bakteri ataupun jamur yang masih terlindungi oleh partikel dari sampel yang akan diperiksa. Proses inimenggunakan alat bantu vortex supaya sampel dapat bercampur dengan pengencernya.

  • Pengenceran bertujuan untuk membantu dalam perhitungan koloni yang benar. Apabila tidak dilakukan pengenceran, maka suspanse akan terlalu pekat mengakibatkan pertumbuhan bakteri ataujamur yang saling menumpuk dan akan terpisah dengan jelas dan sulit untuk dihitung. Namun pengenceran yang terlalu tinggi akan menghasilkan lempeng agar degan jumlah koloni yang rendah (< 30 koloni), sehingga perlu dilakukan tahap optimasi pengenceran, sehingga diperoleh pengenceran yang sesuai yaitu dengan kisaran 101 hingga 104. Prinsip pengenceran adalah diperolehnya individu bakteri atau fungi yang tumbuh secara terpisah yang tampak pada cawan petri setelah inkubasi.
  • Inokulasi dan inkubasi inokulasi sampel dapat dilakukan secara pour plate maupun spread plate, inokulasi prinsipnya adalah untuk membunuh bakeri atau jamur yang telah tumbuh  terpisah pada proses pengenceran kemudian ditumbuhkan pada media agar cawan petri supaya mengetahui koloni bakteri atau jamur yang nantinya di hitung kemudian di inkubasi selama 24-48 jam pada suhu 35-45 derajat celcius dalam posisi terbalik
  • Interpretasi ALT yaitu menghitung koloni yang tumbuh pada cawn petri menggunakan colony counter. dihitung rata-rata jumlah koloni dan dikalikan dengan faktor pengenceran dan dinyatakan hasilnya sebagai jumalh bakteri per ml atau per gram. Untuk rata-rata jumlah koloni dihitung dengan rumus : ( jumlah πΎπ‘œπ‘™π‘œπ‘›π‘– − π‘˜) π‘₯ 𝑃 ⅀ 𝑃 ⅀Koloni = jumlah koloni pada pertridis sampel K = jumlah koloni pada petridist kontrol P = besar pengenceran jumlah P = jumlah pengenceran koloni yang dihitung


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1  WAKTU DAN TEMPAT
Hari/ tanggal          : Selasa , 24 desember 2019
Waktu                     : 08.00 – 11.20
Tempat                   : Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Surabaya

3.2  ALAT
            Cawan petri, mikropipet, erlemeyer, batang pengaduk, tabung reaksi, hot plate, autoclave, pipet ukur, bunsen, alkohol, tisu, kaca arloji, plastik wrab, benang bol, kasa, filler, kertas perkamen, bluetip, mortir dan stamfer

3.3  BAHAN
  1. Media Nutrient Agar  (NA)
  2. Media Nutrient Broth (NB)
  3. NACL
  4. Tahu 
  5. Sinom
3.4 CARA PEMBUATAN PENGENCERAN SAMPEL PADATAN
       1. Menghaluskan sampel tahu dengan mortir dan stamfer
       2. Menimbang sampel tahu sebanyak 1 gram di kaca arloji
       3. Sampel tahu di larutkan dengan NACL sebanyak 100 ml dalam erlemeyer yang steril
       4. Dipipet sampel tahu dengan cara aseptis sebanyak 1 ml dengan mikropipet di masukkan di                   tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml kemudian tabung di beri label padatan 101
       5. Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 101 mikropipet sebanyak 1 ml                              dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah            itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                   reaksi di beri label padatan 102
      6.   Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 102 mikropipet sebanyak 1 ml                             dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah            itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                   reaksi di beri label padatan 103
    7.    Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 103 mikropipet sebanyak 1 ml                              dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah            itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                   reaksi di beri label padatan 104
     8.   Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 104 mikropipet sebanyak 1 ml                              dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah            itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                   reaksi di beri label padatan 105
     9.  Setelah selesai semua tabung reaksi yang di homogenkan di beri plastik wrab dan sumbat                   kemudian di inkubasi selama 24 jam

3.5 CARA PEMBUATAN PENGENCERAN SAMPEL CAIRAN
      1. Menuangkan sinom dalam beker glass kemudian di pipet dengan pipet ukur sebanyak 10 ml
      2  Sampel sinom kemudian di larutkan dengan NACL sebanyak 100 ml dalam erlemeyer yang                steril
      3. Dipipet sampel sinom dengan cara aseptis sebanyak 1 ml dengan mikropipet di masukkan di                tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml kemudian tabung di beri label cairan 101
      4. Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 101 mikropipet sebanyak 1 ml                              dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah            itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                   reaksi di beri label cairan 102
       5. Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 102 mikropipet sebanyak 1 ml                              dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah             itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                  reaksi di beri label cairan 103
        6.  Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 103 mikropipet sebanyak 1 ml                             dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah             itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                  reaksi di beri label cairan 104
         7.  Kemudian di pipet tabung reaksi dengan konsentrasi 104 mikropipet sebanyak 1 ml                             dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi NB sebanyak 9 ml dengan cara aseptis setelah             itu di homogenkan dengan cara pipet sedot dan di keluarkan sebanyak 3x kemudian tabung                  reaksi di beri label cairan 105
          8. Setelah selesai semua tabung reaksi yang di homogenkan di beri plastik wrab dan sumbat                   kemudian di inkubasi selama 24 jam.

3.6 CARA KERJA MEDIA NA METODE POUR PLATE DENGAN SAMPEL TAHU
      1. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 1 padatan yang di                      inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet               dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan                 angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24jam
      2. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 2 padatan yang di                      inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24 jam
      3. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 3 padatan yang di                      inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi selama 24 jam
       4.  Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 4 padatan yang di                      inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi selama 24 jam       
      5.  Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 5 padatan yang di                      inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi selama 24 jam.


3.6 CARA KERJA MEDIA NA METODE POUR PLATE DENGAN SAMPEL SINOM
       1. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 1 cairan yang di                        inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24 jam.
       2. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 2 cairan yang di                        inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24 jam.
       3. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 3 cairan yang di                        inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24 jam.
       4. Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 4 cairan yang di                        inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24 jam.
       5 Bakteri basillus subtilis dari konsentrasi dari tabung reaksi 10 pangkat 5 cairan yang di                        inkubasi selam 24 jam dipipet dengan mikropipet sebanyak 1 ml kemudian media na dipipet                dengan pipet ukur sebanyak 15 ml dengan cara aseptis kemudian cawan petri di pour dengan               angka 8 searah jarum jam. kemudian di wrab dan di inkubasi 24 jam


   
BAB IV 
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
    Pada praktikum kali ini hasil yang terdapat pada uji alt padatan pada tabung reaksi setelah di inkubasi adalah adanya bakteri pada tabung reaksi dengan konsentrasi 10 pangkat satu sampai 10 pangkat 5. Kemudain pada hasil yang terdapat pada uji alt cairan pada tabung reaksi setelah di inkubasi adalah adanya bakteri pada tabung reaksi dengan konsentrasi 10 pangkat satu sampai 10 pangkat 5. Pada media agar dengan metode pour plate koloni bakteri tidak dapat dihitung karena bakteri terlau banyak untuk di hitung

4.2 PEMBAHASAN
 Metode kualitatif yang digunakan untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada sampel yang di gunakan adalah sinom dan tahu dengan uji ALT adalaqh menghitung jumlah mikroba aerob mesofilik yang ditemukan dalam per gram atau per mililiter. Dengan metode pour plate pada media padat dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 35-45 derajat celcius dengan posisi di balik. ALT dapat digunakan sebagai indikator proses higine sanitasi pada suatu produk, analisis mikroba lingkungan pada produk jadi, indikator proses pengawasan dan di gunakan sebagai dasar kecurigaan dapat atau tidaknya di terimanya suatu produk berdasarkan kualitas mikrobiologinya

         prinsip dari metode ini adalah menumbuhkan sel mikroorganisme yang mesih hidup pada media agar sehingga mikroorganisme akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung  dan hitung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. metode ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu homogenisasi sampel, pengenceran, inokulasi & inkubasi dan interpretasi ALT

BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
    prinsip dari metode ini adalah menumbuhkan sel mikroorganisme yang mesih hidup pada media agar sehingga mikroorganisme akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung  dan hitung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. metode ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu homogenisasi sampel, pengenceran, inokulasi & inkubasi dan interpretasi ALT.

5.2 SARAN
   Sebaiknya dalam memilih makanan di luar rumah di lihat lingkungan sekitar tempat berjulan pedagang bersih atau tidak kemudian lalu lalang dari kendaraan bermotor